
Hikayah berbuah Syari'ah
Berawal dari untaian sebuah Do’a, "Robbi Hab lii Minasholihin", yang berarti "Ya Alloh karuniakanlah kepadaku seorang anak yang sholih", yang dipanjatkan oleh seorang manusia pilihan yang bergelar kekasih Alloh, beliau lah Nabi Ibrahim. Do’a tersebut ia panjatkan tiada lain agar dikaruniai seorang anak sholih yang bisa meneruskan perjuangannya menyeru umat manusia kepada jalan yang lurus.
Setelah sekian lama berdo’a dan berhusnudzhon kepada Alloh, pada usia 86 tahun, Alloh mengaruniainya seorang anak sholih, yang kelak meneruskan amanah Rabbnya yaitu menjadi Nabi, beliau itu adalah Isma’il. Ia terlahir dari seorang Ibu yang bernama Hajar. Seorang istri yang selalu bersabar dan ta’at kepada suaminya, sampai-sampai dia rela ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di suatu tempat yang tiada satu pun tumbuhan ataupun hewan menghembuskan nafasnya. Sebuah tempat yang Alloh muliakan, dan akan menjadi tempat yang sangat bersejarah bagi umat Islam.
Hajar bingung entah harus kemana mencari seteguk air untuk Isma’il, kemudian dia berlari dari bukit Shofa sampai Marwah tujuh kali balikan. Yang selanjutnya muncullah syari’at yaitu, Sa’i. Mengapa dikatakan Shofa dan Marwah? Kata Shofa secara bahasa berarti Batu yang bersih, halus dan mulus, begitu juga diartikan sebagai sesuatu yang jernih. Dan kata Marwah berarti bukit batu yang tampak sangat mengkilap, bersih, halus, mulus dan kuat. Kemudian seorang mufassir Al-Alusi mengatakan, kemudian dua kata itu menjadi nama dua buah bukit terkenal yang ada di Makkah.
Setelah Isma’il menginjak dewasa, semakin terlihat bahwa dia adalah seorang anak yang sholih. Nabi Ibrohim datang kepada nya untuk mengajaknya membuat sebuah tempat peribadatan, yang kemudian kita kenal dengan ka’bah dan Masjidil Haram. Sebuah Masjid yang pertama kali dibuat di muka bumi. Seperti kita lihat dalam Surat Ali-Imron ayat 96-97. Dalam ayat ini, dikatakan bahwa tempat peribadatan pertama bagi manusia yaitu Bakkah. Kata Bakkah, berarti Makkah. Dalam Kamus Mukhtar Ashihah, kata Bakkah berarti Mengahancurkan atau memotong. Mufassir Ibn ‘Arabi mengatakan, Alloh menghancurkan atau membinasakan orang-orang yang hendak mengganggu atau merusak tempat itu. Kemudian atas izin-Nya berdirilah ka’bah. Mengapa Alloh SWT memerintahkan Nabi Ibrohim untuk membuat ka’bah? Kiranya ada beberapa hikmah:
Pertama, suatu tempat yang setiap tahunnya berkumpul kaum Muslimin untuk melaksanakan perintah-Nya yaitu menunaikan haji. Kata Al-Hajju secara bahasa yaitu menghadap. Maksudnya menghadap ke Baitulloh, dengan pakaian yang sama, ucapan yang sama dan tujuan yang sama, yaitu untuk melaksanakan manasik haji seperti Ihrom, Thowaf, Sa’i, Wukuf di ‘Arafah, dan ibadah lain yang di Syari’atkan. Sedangkan kata ‘Umroh secara bahasa berarti Ziarah. Artinya, Ziarah ke Baitulloh untuk melaksanakan ibadah haji yang tertentu saja seperti, Thowaf, Sa’I dan mencukur rambut. Sedangkan Wukuf, bermalam di Muzdalifah dan melempar jumroh tidak dilaksanakan ketika ‘Umroh. Kemudian Alloh SWT menjadikan Makkah tempat yang Amina dan Mubarok. Kata Amina berarti tempat yang aman, baik aman untuk jiwa maupun harta. Adapula yang menafsirkan sebagai aman akan terhindar dari siksa akhirat. Sedangkan Mubarok, bermakna Hissiyah dan Ma’nawiyyah. Hissiyah berarti segala kenikmatan yang Alloh berikan berupa kesuburan tanahnya yang bisa diolah dan dimanfa’atkan sehingga tumbuh darinya pepohonan yang berbuah. Adapun berkah Ma’nawiyyah maksudnya berkumpulnya manusia dari seluruh penjuru dunia untuk memenuhi panggilannya yaitu melaksanakan manasik haji. Tidak ada perbedaan ras, suku, ataupun bangsa. Semuanya berada ditempat yang satu mengumandangkan kalimah Thoyyibah, beristighfar, dan mengharap ridlo-Nya. Satu sama lain saling mengenal. Bukan hanya mengenal secara lahiriah tetapi mengenal secara bathiniyah, artinya satu rasa, bahwa mereka itu adalah saudara, sehingga harus saling membantu satu sama lainnya, baik dalam suka maupun duka. Sungguh indah sekali! Semua berkah ini datang berkat do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi Ibrohim dahulu, "Robbi Ij’al Hadza baladan Amina". Lihat Al-Baqoroh ayat 126 dan Ibrohim ayat 35.
Kedua, Ka’bah merupakan kiblat bagi seluruh umat Islam dalam melaksanakan Sholat setelah sebelumnya menghadap Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan. Menghadap ka’bah dalam sholat berarti mengahadap Alloh SWT. Seorang Mufassir bernama Imam Al-Fakhry mengatakan, Alloh SWT. Mensifati ka’bah sebagai rumah-Nya, Wa Thohhir baitiya (Al-Haj: 26), dan mensifati mu’min sebagai hamba-Nya yang ta’at, Qul Ya ‘Ibadii (Az-Zumar: 10). Kedua pensifatan tersebut bermakna Takhshish dan Takrim. Seolah-olah Alloh berfirman: Wahai orang yang beriman, kamu sekalian adalah hamba-Ku, ka’bah adalah rumah-Ku, sholat adalah pelayan-Ku, maka hadapkanlah wajahmu ketika melayani-Ku ke rumah-Ku, dan hadapkanlah hatimu kepada-Ku.
Target utama dari pelaksanaan haji yaitu mendekatkan diri kepada Alloh sehingga memperoleh derajat Taqwa. Bila kita cermati, sudah berapa banyak umat Islam di Indonesia ini yang sudah melaksanakan haji? Seandainya para jema’ah haji itu selalu saling Tawashou bil haq wa tawashopu bi shobri atau saling nasihat menasihati dan saling mengingatkan dalam kebaikan, baik antara keluarga, tetangga, atau pun masyarakat, niscaya negara ini akan aman, tentram, damai dan sejahtera. Tetapi apa yang kita rasakan dan kita lihat sekarang ini? pintu rumah akan selalu tertutup dan jendela akan selalu terkunci. Hawatir dan takut barang kita hilang alias kecolongan. Ya, kejahatan berkembang biak dan berserakan dimana-mana. Kita semua memegang peranan penting dalam memakmurkan Negara.
Sekecil apapun nasihat yang kita sampaikan kepada saudara disamping kita, kita tetap harus menyampaikannya. Bukannya kita paling pintar atau paling soleh, tetapi bila itu kebaikan, maka sampai kan lah. Jangan takut, Alloh telah menjamin akan membantu mereka yang gigih mengajarkan kebaikan (Islam).
Kemudian disampaikanlah wahyu kepada Nabi Ibrohim lewat mimpinya untuk menyembelih Isma’il. Nabi Ibrohim sangat bersedih, karena dia sangat menyayanginya. Seorang anak yang dinanti-nanti berpuluh-puluh tahun, harus disembelih sebagai bukti keta’atan nya kepada Alloh. Tetapi dialah Nabi Ibrohim, seorang manusia yang tegar, sabar, ta’at dan patuh. Setelah Isma’il mencapai As-Sa’yu atau dewasa, Nabi Ibrohim pun mengajak Isma’il untuk berdialog. (Bisa dilihat di Surat As-Shoffat ayat 102), bagaimana seorang Bapak dengan penuh wibawa dan kehormatan berdialog bersama anaknya. Nabi Ibrohim berkata, Wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapat kamu?. Tanpa pikir panjang, dengan tenang Isma’il menjawab, Wahai ayahku lakukan apa yang Alloh perintahkan itu, niscaya engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar. Dialog itupun berhenti dan ketika penyembelihan akan dilaksanakan, Alloh SWT memanggil Nabi Ibrohim dan penyembelihan pun dihentikan kemudian diganti oleh seekor Kambing. Alloh SWT memerintahkan Nabi Ibrohim untuk menyembelih anak kesayangannya itu tiada lain merupakan ujian, apakah Nabi Ibrohim patuh dan ta’at kepada perintah Alloh, atau lebih mengutamakan hawa nafsunya yaitu kesayangannya kepada Isma’il?. Nabi Ibrohim pun melaksanakan perintah-Nya, dan itulah cobaan bagi orang-orang yang beriman. Sehingga Alloh pun mengharumkan namanya, yang akan terus dikenang sampai hari kiamat. Semua Kisah ini bisa dilihat di Surat As-Shofat ayat 100-111.
Untuk memuliakannya pun Alloh SWT menjadikan peristiwa penyembelihan kambing sebagai syari’at yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam yang mampu untuk melakukannya. Untuk umat Islam yang kebetulan sedang melaksanakan haji, diperintahkan untuk Al-Hadyu yaitu menyembelih Budnah atau unta sebagai salah satu cara pendekatan dirinya kepada Alloh. Kemudian bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan haji diperintahkan untuk memperingati hari ‘Idul Adlha, yaitu hari raya Adlha atau Al-Udlhiyah yaitu menyembelih unta, sapi atau kambing sebagai satu cara untuk pendekatan diri kepada Alloh. Inilah satu dari dua hari raya yang telah di syari’atkan Alloh melalui seorang Rosul-Nya, ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Rosululloh SAW. Sangat berbahagia ketika menyambut kedua hari raya ini. Tebarkan senyum, buka kan hati, lapangkan dada, maaf kan segala kesalahan saudara kita, dan tolonglah saudara-saudara kita yang tidak mampu dengan membayar Zakat pada waktu ‘Idul Fithri dan membagikan daging kurban pada waktu ‘Idul Adlha. Dari sebagian harta kita ada hak bagi orang-orang disamping kita. Bersedekahlah dengan ikhlas! Niscaya Alloh SWT akan menggantinya dengan pahala yang berlipat-lipat ganda.
Dahulu sebelum Islam tersebar di Makkah dan Madinah, orang-orang Jahiliyah pun berkurban menyembelih unta, tetapi kemudian daging nya ditebarkan di sekitar Ka’bah dan darahnya pun dialirkan dan dipercikkan disekitar Ka’bah, sebagai persembahan kepada Dewa mereka yaitu patung Latta dan ‘Uzza, yang berdiri disekitar Ka’bah. Mereka telah kufur dan musyrik kepada Alloh.
Berbeda dengan orang-orang Jahiliyah, Alloh SWT telah menegaskan kepada orang-orang Muslim, bahwa daging Qurban yang disembelih pada waktu Al-Hadyu dan Al-Udlhiyah tidak akan sampai kepada-Nya. Tetapi yang akan sampai kepada-Nya yaitu keikhlasan dan ketakwaan. Sangat percuma ketika kita berqurban hanya untuk ria, sombong, atau ingin dilihat orang saja. Berkurban tanpa keikhlasan dan ketaqwaan seperti jiwa tanpa ruh. Orang-orang yang berkurban dengan Ikhlas akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ganda. Kemudian dagingnya itupun kita nikmati dan kita sedekahkan kepada saudara-saudara kita yang lebih membutuhkannya. Inilah yang terpenting, karena berkurban itu ibarat bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan, sehingga dianjurkan untuk disedekahkan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya, sehingga tidak hanya kita yang bisa mencicipi nikmat dan lezatnya daging kurban, tetapi mereka pun mencicipinya walaupun tidak seberapa.
Coba kita bayangkan, bagaimana seandainya daging kurban itu benar-benar tersebar merata kepada seluruh orang yang membutuhkannya? Meskipun hanya satu kali dalam satu tahun, sepertinya tidak akan begitu banyak orang yang kelaparan atau busung lapar seperti kita saksikan sekarang ini.
Kalau kita mampu untuk menunaikan haji ke Baitulloh atau berkurban di kampong halaman kita, maka janganlah ragu, tunaikan lah haji atau berkurban lah dengan ikhlas, akan tetapi kalau kita belum mampu untuk melaksanakan itu, maka berdo’alah dengan ikhlas agar tahun depan kita diberikan kemampuan. Kita harus yakin bahwa Alloh itu dekat, kita harus yakin bahwa Alloh itu akan selalu mendengar dan kita harus yakin bahwa Alloh akan mengambulkan do’a yang keluar dari hati dan mulut kita yang Ikhlas. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Dani Moh. Ramdani